Kucing hutan
Kokang
ayam utan betina
ayam utan jantan
Ayam Hutan Kalimantan
Ini Kijang Kalimantan yang masih sering ditemukan di hutan
biawak
burung hantu yang disebut kukulai
binatang luak
Ular Cobra Kalimantan
Tokek
Bekantan
Anak macan yang tertangkap warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU)
Kalimantan Selatan yang menandakan satwa ini banyak banyak terdapat di
wilayah ini (foto Yan HSU)
Kita hanya tahu nama burung punai, nah inilah burung punai itu, sebab
ada istilah mengharap burung terbang punai ditangandilepaskan
Kera (warik)
Burung Peragam
Belibis
burung bubut
Burung kuntul
Burung Serindit
burung buburak
Bantiungan
POPULASI TIMPAKUL KIAN MENURUN DI SUNGAI BANJARMASIN
Satwa sejenis ikan namun lebih banyak hidup di daratan ini disebut
timpakul, atau bahasa lain disebut belodok atau gelodok senang
melompat-lompat ke daratan, terutama di daerah berlumpur atau berair
dangkal di sekitar hutan bakau ketika air surut.
Hanya saja binatang dengan nama lain belacak atau dalam bahasa Inggris
disebut mudskipper, sudah mulai menghilang di Kota Banjarmasin, akibat
rusaknya kondisi sungai di wilayah yang berjuluk Kota seribu Sungai ini.
“Dulu era tahun 60-an mudah sekali menangkap timpakul di sungai
Banjarmasin tetapi sekarang jangankan menangkap untuk melihat saja sudah
sulit, setelah banyaknya pencemaran limbah rumah tangga dan industri
mengotori sungai mengganggu habitat ikan darat ini,”kata penduduk Sungai
Lulut Banjarmasin.
Dulu bukan hanya disungai tetapi dipersawahanpun mudah disaksikan kehidupannya, kata warga Banjarmasin.
Ikan ini sangatlah khas. Kedua matanya menonjol di atas kepala seperti
mata kodok, wajah yang dempak, dan sirip-sirip punggung yang terkembang
menawan. Badannya bulat panjang seperti torpedo, sementara sirip ekornya
membulat. Panjang tubuh bervariasi mulai dari beberapa sentimeter
hingga mendekati 30 cm.
Berdasarkan catatan wikipedia keahlian yang dimiliki ikan yang satu ini,
selain dapat bertahan hidup lama di daratan (90% waktunya dihabiskan di
darat), ikan gelodok dapat memanjat akar-akar pohon bakau, melompat
jauh, dan ‘berjalan’ di atas lumpur. Pangkal sirip dadanya berotot kuat,
sehingga sirip ini dapat ditekuk dan berfungsi seperti lengan untuk
merayap, merangkak dan melompat.
Daya bertahan di daratan ini didukung pula oleh kemampuannya bernafas
melalui kulit tubuhnya dan lapisan selaput lendir di mulut dan
kerongkongannya, yang hanya bisa terlaksana dalam keadaan lembab. Oleh
sebab itu gelodok setiap beberapa saat perlu mencelupkan diri ke air
untuk membasahi tubuhnya. Ikan gelodok Periophthalmus koelreuteri setiap
kalinya bisa bertahan sampai 7-8 menit di darat, sebelum masuk lagi ke
air. Di samping itu, gelodok juga menyimpan sejumlah air di rongga
insangnya yang membesar, yang memungkinkan insang untuk selalu terendam
dan berfungsi selagi ikan itu berjalan-jalan di daratan.
Hidup di wilayah pasang surut, gelodok biasa menggali lubang di lumpur
yang lunak untuk sarangnya. Lubang ini bisa sangat dalam dan
bercabang-cabang, berisi air dan sedikit udara di ruang-ruang tertentu.
Ketika air pasang naik, gelodok umumnya bersembunyi di lubang-lubang ini
untuk menghindari ikan-ikan pemangsa yang berdatangan.
Ikan jantan memiliki semacam alat kopulasi pada kelaminnya. Setelah
perkawinan, telur-telur ikan gelodok disimpan dalam lubangnya itu dan
dijaga oleh induk betinanya. Telur-telur itu lengket dan melekat pada
dinding lumpur. Gelodok Periophthalmodon schlosseri dapat bertelur
hingga 70.000 butir.
Gelodok memangsa aneka hewan, mulai dari ketam binatu (Uca spp.), udang,
ikan, kerang, cumi-cumi, sampai ke semut ngangrang dan lalat. Ikan ini
juga diduga memakan sedikit tumbuhan.
Ketika menjelajah daratan, gelodok juga sering menyerang dan mengusir gelodok yang lainnya, untuk mempertahankan teritorinya.
Gelodok Periophthalmus gracilis (dari Malaysia hingga Australia utara)
Ikan gelodok hanya dijumpai di pantai-pantai beriklim tropis dan
subtropis di wilayah Indo-Pasifik sampai ke pantai Atlantik Benua
Afrika.
Saat ini telah teridentifikasi sebanyak 35 spesies ikan gelodok. Terbagi
menjadi tiga kelompok besar, yaitu Boleophthalmus, Periophthalmus dan
Periophthalmodon. Beberapa spesies contohnya adalah Pseudapocryptes
elongatus, Periophthalmus gracilis, Periophthalmus novemradiatus,
Periophthalmus barbarus, Periophthalmus argentilineatus dan
Periophthalmodon schlosseri.
Belum banyak terkuak nilai dari ikan ini. Namun di Tiongkok dan Jepang,
ikan gelodok menjadi santapan, selain juga digunakan sebagai obat
tradisional, terutama sebagai peningkat tenaga lelaki.
Inilah beruang madu yang banyak hidup berkeliaran di Kalsel
Biawak masih banyak berkeliaran di belakang rumah penduduk di Desa Inan, Kabupaten Balangan
Bingkarungan
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1939642573335.117073.1310530576
TUPAI RAKSASA BALANGAN MULAI PUNAH
Banjarmasin,27/5 (ANTARA)- Bagi masyarakat ingin menyaksikan lagi
tupai raksasa disebut penduduk pedalaman Kalimantan Selatan sebagai
Tengkarawak kini sudah tak mudah lagi pasalnya populasi hewan tersebut
kemungkinan terus menyurut dan dikhawatirkan punah.
Padahal jenis tupai raksasa yang disebut pula di berbagai wilayah lain
di Pulau Kalimantan ini sebagai Kerawak, mudah terlihat di era tahun
60-an hingga tahun 70-an, demikian keterangan yang diperoleh ANTARA di
wilayah pedalaman, Kabupaten Balanganan, Kalsel, Minggu.
Menurut, Husni (40 tahun) penduduk Desa Inan, Kecamatan Paringin,
Kabupaten Balangan 220 Kilometer Utara Banjarmasin, Tangkarawak hampir
tak pernah terlihat lagi dalam beberapa tahun belakangan ini.
Padahal, tambahnya Tangkarawak dulunya merupakan hewan yang sering
menganggu tanaman buah penduduk setempat, dan berlompatan dari batang
kayu yang satu kebatang kayu yang lain.
Tangkarawak yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Pale Giant
Sguirrel itu memang dikenal sebagai pengganggu buah-buahan penduduk
setempat yang rakus.

Karena bila beberapa ekor Tangkarawak datang kesebuah batang pohon yang
lagi berbuah, misalnya buah sawu maka bisa jadi buah sawu satu pohon itu
ludes dimangsa hewan mamalia ini.
Bukan hanya buah sawu kesukaan hewan ini, tetapi buah-buahan lain,
seperti binjai (kemang), jambu, mangga, rambutan, langsat, kuwini,
durian, bahkan kelapa pun mereka embat.
Akibat kerakusan hewan menganggu tanaman buah-buahan penduduk itulah maka warga setempat kemudian memburu hewan tersebut.
Tadinya memburu hewan itu hanya menggunakan katapel, dengan peluru batu, sehingga hewan itu mudah saja mengelak bidikan warga.
Tetapi belakangan setelah menjamurnya senjara penjualan senapan angin
dengan peluru runcing, akirnya warga yang tidak senang kehadiran hewan
penggangu tanaman buah itu lalu memburu dengan jenis senjata baru
tersebut.
Akhirnya hewan itu satu per satu bisa dilumpuhkan warga, dan bagi hewan
yang masih ada tidak mau lagi tinggal di dekat pemukiman penduduk,
sekarang hewan itu kalau masih ada yang hidup berada di pedalaman yang
jauh jangkauan penduduk.
Beberapa warga di kawasan hutan lereng Pegunungan Meratus Kabupaten
Balangan ini sekali-sekali memang masih pernah menemui hewan tersebut,
tetapi sulit dilihat karena bila hewan itu melihat kedatangan manusia
maka akan lari kencang dengan berlomopatan di pohon yang tinggi.
Tak sukanya warga di kawasan ini terhadap hewan yang berwarna putih
kuning dengan panjang sekitar satu hingga satu setengah meter tersebut
karena juga dianggap sebagai pemangsa hewan peliharaan, khsusnya anak
ayam.
Konon hewan ini selain suka buah ternyata juga makan daging, khususnya anak ayam peliharaan masyarakat.
Citi-ciri hewan ini bekulit-putih kuning badan dan ekor hampir saja
panjangnya, beryiulang belakang (vertebrat) tergolong dalam keluarga
tupai dan termasuk hewan berdarah panas.
Kalangan pencinta alam menyayangkan hilangnya jenis fauna yang langka
tersebut, padahal kehadiran hewan tersebut menambah khasanah kekayaan
alam setempat.
Makanya diimbau kepada masyarakat, kalau masih melihat adanya hewan
tersebut, supaya dilindungi dan biarlah hewan itu hidup di habitat hutan
Kalimantan ini agar anak cucu di masa mendatang bisa menyaksikan hewan
tersebut
Binatang kukang, kini kian langka di hutan Kalimantan.
Binatang ini selalu hidup berpasang-pasangan dan kalau pasangannya di pisah konon salah satunya akan mati.
Ular sanca lagi kekenyangan setelah menelan seekor kambing, ular semacam ini masih banyak berkeliaran di Kalsel (foto Yen2 FB)
SADU, SATWA PEDALAMAN KALSEL YANG MAMPU BERKENTUT DENGAN BAU MENYENGAT
Bagi masyarakat wilayah banua Anam ( enam kabupaten utatara Kalsel) atau
kawasan hulu sungai sudah begitu kenal dengan jenis binatang yang suka
kentut kalau diganggu, dan baunya bisa belakat berhari-hari bahkan
berminggu-minggu di pakaian.
Kerena itu warga kawasan ini enggan sekali mendekati jenis binatang
tersebut apalagi untuk menangkapnya sehingga populasi binatang yang
disebut sado atau saad itu hingga kini masih ada di kawasan Banua Anam
Kalsel.
Binatang ini sembunyi di kala siang hari tetapi akan muncul di saat
senja hingga malam hari dan berkeliaran bukan saja di hutan dan semak
belaukar tetapi sado suka berkeliaran di pemukiman penduduk.
Bentuk binatang ini tidak besar tetapi juga tidak kecil seperti seekor
kucing, bentuk tubuhnya menyerupai babi kecil hanya saja bulu binatang
ini berbelang, abu-abu tetapi ada garis putih di atas punggung binatang
ini.
Bila binatang ini diganggu, biasanya anak-anak kampung sering menggangu
binatang ini dengan melempari dengan batu atau dengan potongan kayu,
sehingga bila terkena binatang ini maka ia akan kentut mengeluarkan bau
kentut yang sangat menyengat hampir tak ada orang yang sanggub mengirup
bau kentut tersebut akhirnya siapapun orangnya akan menghindar dari
kentut binatang.
Karena bila terkena kentut ini maka sarung atau pakaian yang melekat
dibadan akan terus berbau kentut ini yang baunya benar-benar enak bahkan
kalau menciumnya perut terasa mual bahkan ada orang yang tak tahan lalu
muntah dan kepala pusing-pusing.
Menurut orang tua di bilangan Desa Inan, Kecamatan Paringin Balangan,
saat binatang ini berkentut saat malam hari tampak dari dubur binatang
ini mengeluarkan semacam cahaya walau tidak terang tetapi tampak,
setelah keluar vahaya itulah kemudian bau menyengat akan menyebar
seantero kampung dan biasanya bila binatang ini sudah kentut maka satu
kampung akan terganggu.
Menurut tetuha masyarakat, kentut yang dikeluarkan binatang ini bukan
sembarang kentut tetapi binatang ini mengeluarkan semacam gas beracun
maksudnya untuk mengusir musuh khususnya binatang pemangsa atau siapa
yang berani menganggunya termasuk manusia.
Di masyarakat setempat ada seorang pawang binatang ini bukan mampu
menjinakan tetapi hanya mampu mengobati bila warga terkena kentut
binatang ini agar badan dan seluruh pakaian terhindari dari bau kentut
menyengat ini, tetapi sayang pawang itu sudang meninggal dunia dan
tidak ada lagi yang sempat berguru sebagai pawang tersebut.
macan dahan Kalimantan
Melacak Jejak Macan Dahan Kalimantan
SIANG hari seperti biasa Suta pergi ke hutan di sekitar tempat
tinggalnya di Desa Butong Kecamatan Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara,
Kalimantan Tengah melihat perangkap (jerat) yang dipasang untuk
menangkap babi.
Berburu babi dengan jebakan merupakan pekerjaan rutinnya selain
sebagai petani karet, namun saat melihat alat perangkap tradisional yang
disebut warga setempat jipah itu bukannya hewan babi yang terkena
perangkap melainkan seekor binatang yang kulitnya bercorak awan
(bulat-bulat) berwarna abu-abu dengan panjang tubuh satu meter.
“Saat saya melepas dari jerat perangkap, binatang itu tanpa meronta
padahal taringnya cukup panjang sekitar 10 cm,” kata Suta lelaki berusia
40 tahun itu yang tinggal di RT 5 Desa Butong. Binatang itu kemudian
dibawanya ke desanya berjarak tiga kilometer menggunakan tas terbuat
dari rotan yang ditaruh di punggung (lanjung) biasa dijadikan alat untuk
mengangkut hasil kebun warga setempat.
Tertangkapnya binatang liar yang ternyata macan dahan (neofelis
diardi) itu langsung membuat gempar masyarakat di sekitar tempat
tinggalnya yang tidak jauh dari SDN-1 Butong. Macan dahan hidup dari
pohon ke pohon di dalam hutan lebat. Semula binatang itu akan diserahkan
kepada Pemkab Barito Utara untuk dipelihara, namun tiga hari setelah
ditangkap, macan itu telah melarikan diri dengan cara merusak papan kayu
yang dijadikan kurungan dan diletakkan di bawah rumah.
Padahal, Suta tengah mempersiapkan sangkar yang dibuat dari besi
namun binatang itu hilang tanpa diketahui keberadaannya lagi. Sementara
Alwis Gandrung seorang warga Muara Teweh mengatakan, kepercayaan
masyarakat setempat tertangkapnya hewan langka berjenis kelamin jantan
yang disebut satua panjang buntut atau binatang panjang ekor oleh warga
suku Dayak setempat sebagai tanda kenaasan atau sial baik bagi penemu
maupun binatang tersebut.
Menurut dia, binatang ini sulit ditemukan sehingga bagi orang yang
bisa mendapatkannya berarti binatang tersebut mengalami sial atau
disebut warga setempat dengan nama kepuhunan. Bahkan kepercayaan orang
Dayak binatang ini merupakan hewan jadi-jadian atau makhluk halus dan
baru kali ini macan dahan bisa ditangkap, kata Alwis.
Sesuai kepercayaan suku Dayak, macan dahan yang berhasil ditangkap
warga berarti binatang itu mengalami sial. Sementara orang yang melihat
binatang tersebut juga akan kena naas atau musibah seperti terjangkit
penyakit.
Terancam
Kepala Kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah IV
Muara Teweh, Yusuf Trismanto, mengatakan, populasi salah satu binatang
buas ini sudah mulai terancam karena hutan yang selama ini menjadi
habitatnya sudah banyak tergusur dijadikan kawasan perkebunan, kegiatan
perusahaan HPH maupun pertambangan.
Mungkin karena kelaparan tidak menemukan binatang lain yang biasa
menjadi santapannya sehingga macan dahan yang selalu hidup di atas pohon
itu harus turun ke tanah guna mencari makanan.
Ia mengatakan, kalau memang binatang itu terancam habitatnya bukan
berarti akibat perburuan atau dibunuh, karena selama ini macan dahan
sulit ditemukan dan keberadaannya tidak terlacak.
“Kalau binatang itu terancam punah, tidak disebabkan perburuan karena
selama ini tidak pernah terdengar orang menemukan binatang tersebut
lalu membunuhnya,” jelas Yusuf. Menurut dia, populasi macan dahan di
Kabupaten Barito Utara saat ini ada di kawasan perkebunan kelapa sawit
PT Antang Ganda Utama terutama di wilayah kebun kemitraan di Desa Rarawa
Kecamatan Gunung Timang.
Di wilayah itu warga sering melihat macan dahan, bahkan masyarakat
takut pergi ke hutan seorang diri, karena binatang itu tubuhnya cukup
besar, bahkan binatang itu akan memangsa ternak babi warga setempat jika
kelaparan. Macan dahan juga pernah terlacak di kawasan perkebunan sawit
PT Berjaya Agro Kalimantan dan kawasan Cagar Alam Pararawen wilayah
Desa Lemo Kecamatan Teweh Tengah.
Sulit dilacak
Yusuf Trismanto menyatakan secara ekologi keberadaan macan dahan di
daerah ini memang ada, namun sekarang sulit ditemukan. “Hewan ini sangat
langka karena kita biasanya hanya menemukan jejak atau laporan petugas
dan warga masyarakat yang pernah melihatnya,” katanya.
Namun Yusuf sangat terkejut dengan ditangkapnya macan dahan oleh
warga Desa Butong yang selama ini lebih banyak mendengar kisahnya baik
melalui petugas di lapangan maupun masyarakat ketimbang melihat sendiri.
“Setelah saya melihat foto yang diambil melalui kamera ponsel oleh
warga setempat ternyata memang besar dan hal ini memang kejadian langka
apalagi sampai bisa ditangkap,” paparnya. Kepala Balai Konservasi Sumber
Daya Alam Kalteng, Mega Haryanto menyatakan pihaknya masih berupaya
menelusuri populasi macan dahan yang diperkirakan semakin jarang
ditemukan.
Di Kalteng macan dahan masih bisa ditemukan seperti di Taman Nasional
Sebangau, Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat,
dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Selain itu di daerah lain juga diketahui memiliki habitat macan dahan
dalam jumlah kecil seperti di Cagar Alam Sapat Hawung, Pararawen, Suaka
Margasatwa Lamandau, Hutan Lindung Bukit Bantikap, dan Blok E kawasan
Pengembangan Lahan Gambut.
“Secara pasti belum diketahui habitat dan jumlahnya. Kami masih
melakukan penelusuran jejak, karena macan dahan termasuk hewan langka,”
ujarnya.
Terekam
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng memasang kamera di lokasi
lembaga penelitian di dalam hutan Taman Nasional Sebangau, Kalteng dan
belum lama ini merekam foto seekor macan dahan. Foto serupa di habitat
aslinya, juga sempat beberapa kali terekam, termasuk kemunculan macan
dahan di daerah hutan dan jembatan kanal air yang biasa dilintasi
manusia di wilayah itu.
“Populasinya dari dulu tidak diketahui, meski keberadaannya sering
terlihat di sejumlah daerah konservasi di Kalteng,” kata Kepala Balai
Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng, Mega Haryanto.
Macan dahan termasuk dari ratusan jenis hewan langka yang dilindungi UU
No 55/1995 tentang Konservasi dan Sumber Daya Hayati. Dalam
Undang-Undang tersebut Pasal 40 mengatur jelas semua orang dilarang
menangkap dan memiliki hewan-hewan langka.
Macan dahan Kalimantan sebelumnya disebut dengan nama spesies
Neofelis nebulosa, namun sejak tahun lalu diubah menjadi Neofelis diardi
karena hasil tes DNA menunjukkan, macan dahan asal Indonesia itu
memiliki banyak perbedaan sifat genetik dengan macan dahan sejenis yang
tersebar di Benua Asia.
Mengacu data World Wildlife Fund (WWF), macan dahan yang baru
diklasifikasikan sebagai spesies baru itu diperkirakan tersisa antara
5.000 hingga 11.000 di Kalimantan dan antara 3.000 hingga 7.000 di
Sumatera. Hewan langka itu memiliki corak seperti awan yang kecil, corak
bergaris ganda di punggung, dan warna rambut berwarna abu-abu yang
lebih gelap daripada spesies sejenisnya.
Neofelis diardi merupakan predator utama di hutan Kalimantan, dengan
makanan monyet, rusa, burung, dan kadal. Ukuran gigi taring terhadap
tubuhnya tergolong paling panjang di antara kucing lainnya.
Harapan hidupnya kini hanya tersisa di kawasan Heart of Borneo, hutan
tropis di bagian tengah Borneo seluas 220 ribu kilometer persegi yang
telah ditetapkan pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam
sebagai kawasan konservasi. (kasriadi/Mb)
KALSEL MILIKI MADU BUKAN DARI LEBAH, TAPI KALULUT
Banjarmasin,10/6 (ANTARA)- Masyarakat yang tinggal di pedalaman
Propinsi Kalimantan Selatan persisnya di lereng Pegunungan Meratus
Kabupaten Balangan menemukan sejenis madu yang bukan dari hasil
pembuatan lebah.
Binatang yang mengolah madu tersebut bentuk kecil lebih kecil dari lalat
disebut masyarakat setempat sebagai binatang kalulut, sehingga madu
yang dihasilkannya itu disebut madu kelulut, demikian keterangan dari
warga di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan,Kalsel, Minggu.
Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk
kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue,
atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.
Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa
Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat
dibandingkan madu lebah.
Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga
binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan
anak-anaknya.
sedang mencari madu kalulut

moncong sarang kelulut di pohon besar
Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka terhadap
jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan madu lebah,
tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan madu lebah.
Untuk mencari madu kalulut ini memang rlatif lebih sulit dibandingkan
madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit sekali
menghasilkan madu.
“Makanya untuk mendapatkan satu liter madu kalulut, itu harus mampu
mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut, sementara kalau mengambil
madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai puluhan liter” kata
Aliansyah.
Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon
seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam
rongga batang pohon besar.
Biasanya sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar,
Untuk mengenali batang pohon itu ada atau tidak sarang kalulut, ditandai
dengan sekelompok binatang kalulut yang beterbangan di sekitar itu.
Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut pencari madu ini harus menebang
dulu pohon itu, kemudian baru membelahnya pakai kampak, setelah itu baru
kelihatannya sarang kalulut lengkap dengan wadah-wadah madunya.
Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon itu
terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin hitam.
Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari
gelembong tersebut.
Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan
balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu
dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul.
Enaknya mengambil madu itu karena gigitan binatang ini tidak sakit
dibandingkan gigitan lebah, paling banter sakitnya seperti gigitan
nyamuk, tetapi kalau binatang ini marah biasanya secara berkelompok
menyerang bagian rambut orang hingga seringakali binatang ini banyak
nyangkut dirambut orang.
Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada yang
bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang
disebut penduduk setempat tanah balambika.
Bila madu kalulut yang bersarang dalam tanah merah ini diambil maka
warna madu kalulut agak merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam
pohon agak merah ke hitam-hitaman.
Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun
harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah
asli rp50 ribu per liter di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini
bisa Rp60 ribu per liter.
Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau didiamkan lebih lama dulu,
sehingga dikenal ada madu kalulut usianya tahunan di tangan masyarakat.
Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk kejantanan
laki-laki atau awet muda, atau untuk obat demam, atau obat luka
FLORA DAN FAUNA KALSEL
Kekayaan flora dan fauna di Kalimantan Selatan sedapat mungkin
dipelihara sebagai bagian dari kekayaan sumber daya alam. Dalam hal ini
dilakukan upaya konservasi sumber daya alam yang meliputi konservasi di
dalam kawasan hutan dan konservasi diluar kawasan hutan. Khususnya
konservasi didalam kawasan hutan dilakukan dengan melalui pembangunan
suaka margasatwa, suaka alam, dan taman wisata serta taman hutan raya.
Berbagai fauna yang tergolong satwa langka yang dilindungi yang tersebar pada Hutan Suaka Alam dan Wisata yaitu :

bekantan
1. Bekantan ( Nasalis Larvatus )
2. Kera Abu – Abu ( Maccaca Irrus )
3. Elang ( Butatstur sp )
4. Beruang Madu ( Hylarotis Malayanus )
5. Kijang Pelaihari ( Muntiacus Salvator )
6. Owa – Owa ( hylobatus Mullerii )
7. Elang Raja Udang ( Palargapais Carpusis )
8. Cabakak ( Hakyan Chalaris )
9. Rusa sambar ( Cervus Unicular )
10. Biawak ( Varanus spesi )
11. Kuau ( Argusianus Argus )
12. Pecuk Ular ( Prebytus Rubicusida )

beruang
Pusat-pusat konservasi flora dan fauna seperti disebutkan diatas dapat lebih diperincikan sebagai berikut :
1. Cagar Alam Pulau Kaget
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi Bekantan ( nasalis Larvatus ), Kera Abu-Abu ( Macaca fasicularis ) dan lain-lain.
2. Cagar Alam Gunung Kentawan
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi angrek alam, owa-owa ( hylobatus Muelleri ), bekantan dan beberapa jenis burung.
3. Suaka Margasatwa Peleihari – Martapura
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi Beruang Madu ( helarctus
malayanus ), Kuwau ( Argusianus Argus ), Pecuk ular ( Cervus unicolor ),
dan Kijang Peleihari ( Muntiacus Pleiharicus )
4. Suaka Alam Pelaihari Tanah Laut
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi bekantan, burung raja udang (
Palargopsis capengis ), rusa sambar, dan biawak ( Varanus Salvator ).
5. Taman Wisata Pulau Kembang
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi bekantan , kera abu-abu,
bajing tanah ( Laricus insignis ) dan elang abu-abu ( Butartur sp )
6. Taman Hutan Raya Sultan Adam
Sebagai kawasan konservasi untuk melindungi berbagai jenis flora dan
fauna, sekaligus sebagai kawasan Hutan Pendidikan Fakultas kehutanan
Universitas lambung Mangkurat.
Terdapat tiga buah reservant masing-masing di Danau bangkau, Danau
panggang, dan Sungai Buluh, sebagai kawasan untuk melindungi satwa air
khususnya pada saat hewan tersebut berkembang biak. Hewan-hewan yang
dilindungi dikawasan ini antara lain ikan haruan ( ophiocephalus
striatus ), betok ( Anabas testudineus ), sepat Siam ( trichogaster
pectoralis ), tambakan ( helostoma temmincki ), dan buaya taman (
Crocodile sp )
KAYU ULIN KALSEL KIAN LANGKA
Banjarmasin,11/4 (ANTARA)- Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang
disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) belakangan ini kian langka dan
sulit diperoleh di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).Padahal keberadaan kayu tersebut banyak dicari masyarakat khususnya
untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya, kata
Haji Sandri penduduk Jalan Sultan Adam Banjarmasin, Rabu.Haji sandri yang dikenal sebagai pedagang kayu ulin tersebut menyebutkan
akibat sulitnya memperoleh kayu tersebut maka harga bahan bangunan
terbuat dari kayu itupun kini melambung.
Menurutnya, jenis bahan bangunan yang terbuat dari kayu ulin yang
belakangan masih banyak ditemukan di Banjarmasin atau daerah lain di
Kalsel, bukan lagi hasil tebangan baru melainkan kayu ulin bekas hasil
tebangan lama yang sudah tersimpan bertahun-tahun.
“Dulu kayu ulin yang masih berupa balokan atau berbentuk pohon di
potong-potong dengan panjang sekitar tiga hingga empat meter lalu
balokan itu potong-potong lagi sehingga menjadi persegi empat dengan
panjang tetap sekitar tiga hingga empat meter,” katanya.
Nah sisa-sisa potongan kayu itulah yang sekarang dibuat lagi menjadi
bahan bangunan seperti ini, katanya seraya memperlihatkan beberapa kayu
gergajian hasil olahan kayu sisa tersebut.
Bukti kayu ulin ini sisa, lihat saja warna kayunya sudah ada yang agak
kehitaman, ada bekas tanaman lumut (tumbuhan air) ada bekas gergajian,
bekas terbakar dan tanda-tanda lainnya.
Walau kayu ini kayu ulin bekas olahan tetapi tetap saja diminati karena
kualitas kayu ini kuat dan baik, sehingga untuk jenis bahan bangunan
papan saja harganya sekarang sudah mencapai Rp52 ribu per keping,
padahal dulu paling banter hanya Rp20 ribu per keping.
Mahalnya harga itu selain memang kian langka juga untuk mengangkut kayu
tersebut dari lokasi penggergajian di Bilangan Liang Anggang sekitar 60
kilometer dari Banjarmasin ke arah Banjarmasin sering dipersoalkan pihak
kepolisian, akibatnya banyak pedagang yang takut membawa kayu
tersebut.
Berdasarkan keterangan yang ia peroleh kayu lin tersebut, berasal dari
tebangan lama di wilayah Kabupaten tanah Laut, Tanah Bumbu, serta
Kabupaten Kotabaru atau wlayah pesisir Timur Kalsel.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan
tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian
Selatan dan Kalimantan.
Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai
ketinggian 400 m.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang
bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan
jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan
sifat-sifat khusus awet dan kuat.
TRENGGILING SI SATWA “JELMAAN SETAN” ITU KINI JADI BARANG DAGANGAN
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 20/4 (ANTARA)- Jangankan memakan, menangkap binatang
Trenggiling saja hampir dipastikan tidak ada yang berani, setidaknya
bagi warga pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) era tahun 60 hingga
tahun 80-an.
Pasalnya, binatang trenggiling bukanlah binatang seperti binatang
lainnya, tetapi binatang yang memiliki nilai mistis, bahkan dianggap
sebagai jelmaan setan atau hantu.
Bahkan banyak yang percaya keberadaan trenggeling disuatu desa bertanda
kurang baik, akhirnya binatang itu diburu jauh ke dalam hutan atau
ditangkap untuk dimusnahkan dengan cara membakarnya, agar roh jahat yang
ada di dalam tubuh binatang itu itu ikut musnah terbakar dan tidak
menganggu manusia.

pemusnahan trenggiling di Kalsel (foto:metro Banjar)
Tetapi tak jarang, binatang sudah tertangkap dibuat ke dalam karung atau
diikat dengan tali ternyata hilang begitu saja, akhirnya anggapan
trenggiling sebagai jelmaan setan kian kuat.
Dengan anggapan demikian di era tahun-tahun tersebut populasinya cukup
terpelihara di hutan tidak ada yang berani memburunya, tetapi kemudian
populasi itu terus menurun hingga sekarang ini, karena bukan saja
ditangkap untuk dikonsumsi dan diperdagangkan tetapi juga akibat hutan
yang kian rusak seperti gundul atau terbakar.
Apalagi belakangan daging binatang ini ternyata di lidah sebagian orang
dinilai lezat bagaikan daging bebek dan dinilai memiliki berbagai
khasiat akhirnya binatang ini kian diburu dan diperdagangkan bukan saja
diperdagangkan di pasar lokal tetapi tak sedikit yang diantarpulaukan
bahkan di ekspor ke luar negeri.
Seperti yang terjadi di Banjarmasin Kalsel sebanyak 360 ekor trenggiling
(Manis Javanica) disita Polsekta Banjarmasin Selatan dari rumah warga
Banjarmasin, kemudian dimusnahkan aparat Dinas Kehutanan dan BKSDA
Kalsel di Tahura Sultan Adam Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kamis (17/4).
Penemuan barang bukti perdagangan ilegal satwa tersebut merupakan yang
kedua kalinya di rumah warga di bilangan Kampung Pekauman tersebut,
karena sebelumnya petugas juga telah menemukan 10 ekor trenggiling dan
25 buah tanduk rusa untuk diperdagangkan.
Menurut isteri tersangka kepada petugas bahwa suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah.
Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka
Raya (Kalimantan Tengah), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai
Selatan/Kalimantan Selatan) serta daerah lainnya di wilayah Kalsel dan
Kalteng ini. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor.
Kemudian, trenggiling diolah dengan cara dibedah dan dikuliti, lalu
dijual dagingnya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.
“Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika
ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang
orang Jakarta.” kata isteri tersangka seperti dikutip sebuah surat kabar
di Banjarmasin.
Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang.
Atau tambahnya, setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan
kemudian bisa sudah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.
Lakunya daging binatang untuk dijual lantaran diyakini dapat
menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya
bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk
kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.

Usaha bisnis ilegal warga Banjarmasin itu akhirnya tercium petugas yang
akhirnya digrebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan yang
hasilnya ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti
di dalam delapan lemari pendingin.
Daging binatang yang ditemukan di rumah warga Banjarmasin seberat 1,5
ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam
Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.
Menurut seorang petugas, binatang ini tak boleh dijualbelikan karena ada
peraturan yang menyatakan hal itu seperti Undang-undang RI No 5/1990,
Peraturan Pemerintah RI No 17/1999.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani kepada wartawan
mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan
hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.
Berdasarkan sebuah literatur bahwa binatang ini ditemukan oleh seorang
bernama Desmarest pada 1822, binatang ini disebut juga ant eater
(pemakan semut) wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia
Tenggara.

Tubuh trenggiling lebih besar dari kucing. Berkaki pendek dengan ekor
panjang dan berat. Yang unik adalah tubuhnya bersisik tersusun seperti
genting rumah. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna
cokelat terang. Binatang berambut sedikit ini tidak mempunyai gigi.
Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling
menggunakan lidah yang terjulur dan bersaput lendir. Panjang juluran
lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.
Pada siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya
dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi
ditinggali.
Untuk melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau
busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu
mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari. Musuh trenggiling
adalah anjing dan harimau.
Binatang unik ini berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak
yang dilahirkan seekor trenggiling betina. Lama buntingnya hanya dua
sampai tiga bulan saja.
Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia
dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga “sisik”nya dapat melukai kulit
pengganggunya.
Trenggiling yang hidup di tanah mempunyai ekor berotot kuat. Panjangnya
kira-kira sama dengan tubuhnya dan seluruhnya bersisik. Trenggiling yang
hidup di pohon mempunyai ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.
Pada ujung ekor itu terdapat bagian yang gundul. Ekor digunakan sebagai lengan untuk berpegang waktu memanjat pohon.
Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India
(Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina
(M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon
(M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla),
Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki)
terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M.
javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam,
Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
Binatang ini memakan semut, telur semut, dan rayap. Untuk menggantikan
fungsi gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya.
Apakah hal ini tidak berbahaya bagi lambungnya, menurut literatur
tersebut tentu saja tidak, karena lambung trenggiling telah dilapisi
oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup
tebal.
Epitel yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap
jenis makanan keras. Gesekan mekanik antara rangka semut atau rayap yang
dimakan dapat diminimalisir dengan adanya keratin tersebut.
Aneka jenis burung Pegunungan Meratus
Pegunungan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang tersisa di
Propinsi Kalimantan Selatan, terbentang dari arah Tenggara sampai Utara
yang berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur. Daerah ini berupa
daerah yang berbukit-bukit dengan berbagai formasi ekosistem, sebagian
besar kawasannya masih ditutupi oleh hutan, mulai dari dataran rendah
sampai dataran tinggi yang didominasi oleh hutan Dipterocarpaceae dan
hutan hujan pegunungan. Secara administratif, kawasan ini mencakup 10
dari 13 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu: Kabupaten
Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai
Selatan, Tapin, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru, sebagian
yang lain termasuk wilayah Propinsi Kalimantan Timur. Semua wilayah
adminsitratif tersebut sangat bergantung kepada kondisi kesehatan
kawasan pegunungan Meratus, diantaranya sebagai daerah tangkapan air
yang vital untuk pertanian, industri, sumber energi, sumber air minum
dan kebutuhan domestik lainnya.



Pegunungan Meratus juga menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang
sangat menarik. Salah satu potensi keanekaragaman hayati yang menarik
adalah Burung. Dalam sebuah survey (Meratus Expedition 2005) yang
dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari perwakilan YCHI, BICONS serta
masyarakat lokal (dari PIM, Malaris – Loksado), dengan tajuk Mountain
Meratus Conservation Management (MMCM), dijumpai sedikitnya 316 jenis
burung dari 47 suku. Namun 316 jenis ini masih belum menggambaran secara
keseluruhan keanekaan jenis burung di kawasan Pegunungan Meratus, oleh
karena cakupan wilayah survey yang tidak terlalu luas serta survey
dilakukan pada satu musim saja dan belum pada musim migrasi burung.
Lima suku yang paling sering dijumpai di daerah ini, antara lain:
Muscicapidae (Burung sikatan) sebanyak 24 jenis ,Timaliidae (Burung
pengoceh) sebanyak 24 jenis, Pycnonotidae (Burung cucak) sebanyak 23
jenis, Nectariniidae (Burung madu dan Pijantung) sebanyak 18 jenis dan
Accipitridae (Burung Elang) sebanyak 17 jenis. Dan yang menarik adalah
lima dari jenis dari suku Muscicapidae merupakan jenis migran, yaitu
Sikatan kerongkongan – merah Ficedula parva, Sikatan emas Ficedula
zanthopygia, Sikatan bubik Muscicapa dauurica, Sikatan burik Muscicapa
griseisticta dan Sikatan sisi-gelap Muscicapa sibirica.
Survey (Meratus Expedition) yang dilaksanakan dalam dua tahap yaitu
pada bulan Mei dan bulan Agustus, menjumpai 18 jenis burung migran pada
expedisi pertama (bulan Mei), diantaranya Trinil ekor-kelabu Tringa
brevipes, Kecici siberia Locustella ochotensis dan Elang-alap cina
Accipiter soloensis dan pada expedisi kedua dijumpai sebanyak 11 jenis
diantaranya Elang tiram Pandion haliaetus, Elang paria Milvus migrans
dan Kecici lurik Locustella lanceolata, jumlah keseluruhan jenis burung
migran yang dijumpai sebanyak 25 jenis.
Selain banyaknya jenis burung migran yang terlihat, 29 jenis burung
(dari 316 jenis burung yang dijumpai) masuk dalam kategori IUCN dengan
status Endangered (Betet-Kelapa filipina Tanygnathus lucionensis, Bangau
storm Ciconia stormi), Vulnerable (Elang wallace Spizaetus nanus,
Sempidan kalimantan Lophura bulweri, Pergam kelabu Ducula pickeringii,
Julang dompet Aceros subruficollis, Cucak rawa Pycnonotus zeylanicus,
Pelanduk kalimantan Malacocincla perspicillata dan Tepus dada-putih
Stachyris grammiceps) dan 20 jenis dengan status Near-Threatened,
disamping itu dua puluh sembilan jenis masuk dalam daftar CITES Appendix
II.
Jenis burung yang ditemui juga banyak jenis yang dilindungi oleh
perundangan Nasional (UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 tahun 1999). Dari
316 jenis, 72 jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi, antara
lain Alap-alap dahi-putih Microhierax latiforns, Paok kepala-biru Pitta
baudii dan Enggang klihingan Anorrhinus galeritus. Jenis burung endemik
Kalimantan, juga banyak ditemui, 25 jenis burung di jumpai pada dua kali
survey, antara lain Luntur whitehead Harpactes whiteheadi dan
Buntut-tumpul kalimantan Urosphena whiteheadi.
Sangat disayangkan bahwa keberadaan burung-burung di kawasan ini
berada di bawah ancaman sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Mengapa? Daerah-daerah tempat habitat burung yang menyukai tutupan hutan
lebat dan sering beraktivitas di lantai hutan kini mulai hilang
dikarenakan konversi lahan, fragmentasi dan alterasi habitat akibat dari
kebijakan yang tidak pro lingkungan dan lemahnya penegakan hukum.
Pemberian ijin konsesi perkebunan skala besar, penambangan dan HPH
semakin meningkat di daerah ini. Bahkan, lokasi konsesi tidak jarang
berada dalam kawasan lindung dan kawasan (hak ulayat) masyarakat adat
Dayak Meratus. Apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya berdiam
diri?
Diambil dari tulisan Ahmad Pahdi (YCHI – Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia).
Sarang lebah madu bergelantungan di pohon besar Kabupaten Balangan Kalsel
sarang lebah tabuan
anggrek hutan di atas pohon besar di Balangan
EKSPEDISI KHATULISTIWA HST CATAT 72 TEMUAN
Banjarmasin,12/5 (ANTARA)- Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator
Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan selama
sekitar selama sebulan penjelajahan berhasil mencatat 72 temuan.
Mayor Sus Komaruddin, perwira sejarah TNI AU kepada wartawan yang
tergabung dalam jurnalis pena hijmau, di lokasi pos Kotis Desa Murung B
Kecamatan Hantakan, HST, Sabtu mengatakan hal tersebut.
Komaruddin yang didampingi para peneliti, dan anggota tim ekspedisi
lainnya menyebutkan 72 temuan tersebut 50 temuan diantaranya adalah
bidang fauna, 18 temuan bidang flora, dan empat temuan bidang kehutanan.
Sedangkan potensi bencana terangkum dalam bentuk pengamatan secara
langsung dikaitkan dengan faktor adat istiadat,pendidikan, dan ekonomi
warga Dayak di Pegunungan Meratus kawasan tersebut.
Menurut Komaruddin, saat ini tim korwil 08/HST sedang melaksanakan
persiapan untuk penjelajah tahap kedua yang direncanakan mulai tanggal
15 Mei 2012 akan melaksanakan penjelajahan dan penelitian di daerah
Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Disebutkannya, timnyamulai melaksanakan penjelajahan dan penelitian
mulai Rabu 11 April 2012 selama tiga minggu di sebelah Selatan
PegununganMeratus dengan objek penelitian dan penjelajahan di Gunung
Tindihan, Gunung Paku, Gunung Periuk, balai adat Tamburasak dan balai
adat Mancatur.
Tim terdiri tim jelajah 2 sebanyak 13 personil dan tim peneliti 1
sebanyak 15 personil, sementara tim jelajah 1 sebanyak 11 personil dan
tim peneliti 2 sebanyak 14 personil.
Dengan daerah penjelajahan dan penelitian di desa Kiyu, Datar Hampakan,
Juhu, Batu Perahu, Sumbai, Hinas Kiri, dan Gunung Halau-halau.
Sementara timlainnya, yang disebut Tim Komsos melaksanakan kegiatan
sosial di Tempat Pemakaman Umum (TPU),Masjid Jami Al Mujahid Desa Besar
Kecamatan Batang Alai Selatan.
Selain itu melakukan penanaman pohon di Natih Kecamatan Batang Alai
Timur, pengobatan massaldi Desa Timan Kecamatan Batu Benawa,penanaman
1000 pohon di Kabupaten Tapin, dan donor darahdi Kodim 1002 Barabai.
Diantara foto2 temuan Tim Ekspedisi Khatulistiwa di Pegunungan Meratus






















































Oleh Hasan Zainuddin
Gonjang ganjing adanya kehidupan kijang emas atau juga disebut kijang
kuning (Muntiacus atherodes) di kawasan Pegunungan Meratus wilayah
Kalimantan Selatan sering terdengar, tetapi agak sulit membuktikan
keberadaan satwa tersebut.
Walau dari cerita dari mulut ke mulut konon berasal dari tetua warga
setempat membenarkan adanya satwa khas tersebut, namun pihak instansi
yang berwenang di provinsi ini tak ada satu yang mengulas tentang kijang
tersebut.
Bahkan sebuah tulisan yang dilansir oleh media Dinas Kehutanan Tabalong
Kalimantan Selatan, yang mengutip keterangan menteri kehutanan
menyebutkan bukan tidak ada tetapi tak terbukti ada binatang yang banyak
membuat orang penasaran ingin melihatnya itu.
Pernyataan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Sub Balai Konservasi
Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel yang menugaskan tim kecil untuk mencari
keberadaan kijang kuning di bagian selatan Taman Hutan Raya (Tahura)
Sultan Adam dan tidak ditemukan jejak ataupun wujudnya.
Meskipun demikian, upaya yang telah dilakukan tentunya mendapat
perhatian bagi sekelompok kecil masyarakat yang berusaha untuk menemukan
jejak atau wujudnya.
Upaya pencarian dilakukan secara bertahap di kawasan Tahura dan berhasil
menemukan seekor kijang kuning Kalimantan yang mati terjerat oleh
jebakan yang dipasang para pemburu dan juga ditemukan adanya tanduk yang
dipajang di rumah seorang penduduk.
Dari upaya pencarian di beberapa lokasi kawasan hutan setidaknya telah
menunjukkan bahwa keberadaan kijang kuning Kalimantan tersebar di
kawasan hutan Kalsel, meskipun status dan keberadaan salah satu satwa
liar endemik Pulau Kalimantan yang sampai saat ini adalah tidak termasuk
dalam daftar satwa liar dilindungi di Indonesia.
Kelompok pencinta alam Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat
(Unlam) Banjarmasin mencoba melakukan suatu kegiatan lapangan yang
bertujuan untuk mengetahui keberadaan kijang kuning di bagian selatan
kawasan Tahura guna mengumpulkan informasi lapangan secara berkala
selama dua bulan (Agustus-September 1998) lalu.
Dari hasil observasi di lapangan ditemukan jejak kijang kuning
Kalimantan yang terjebak tali jerat dan dikonsumsi oleh penduduk. Dengan
adanya temuan ini, menunjukkan bahwa peranan kawasan Tahura Sultan Adam
sangatlah penting bagi hunian berbagai jenis satwa liar.
Berdasarkan sebuah catatan, kijang kuning Kalimantan termasuk kelas
mamalia, ordo (bangsa) Artiodactyla, famili (suku) Cervidae, subfamili
Muntiacinae, genus (marga) Muntiacus, species (jenis) Muntiacus muntjak
dan Muntiacus atherodes.
Secara morfologi, pada bagian atas (punggung) satwa liar ini berwarna
merah kekuning-kuningan dengan sebaran kepirang-kepirangan di sepanjang
bagian tengah terutama leher / tengkuk, bagian bawah (perut) pucat
kekuning-kuningan, oranye agak keputih-putihan.
Ekor bagian atas berwarna coklat gelap dan kuning agak kecil dan ramping
dengan tinggi bahu ± 50 cm, ukuran panjang dari kepala dan badan (tidak
termasuk panjang ekor) 86-92 cm dengan berat 13,5-17,7 kg. Tanduknya
tidak memiliki cabang dengan panjang 1,6-4,2 cm dan panjang tangkai
tanduk 6,5-8,7 cm.

Perbedanaan Tengkorak Kijang Emas Kiri dan Kijang Biasa Kanan
Ekspedisi
Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu
Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan berusaha menemukan kijang kuning.
“Saya sudah dengar informasi adanya kijang kuning di Pegunungan Meratus
HST Kalsel, makanya kita berusaha menemukan satwa langka tersebut,” kata
Peneliti flora dan fauna
Dr.Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc. yang ikut dalam tim di lokasi pos tim Desa Murung B Hantakan HST, pertengahan Mei 2012 lalu.
Dosen Fakultas Kehutanan IPB tersebut juga merasa tertarik keberadaan
kijang kuning di kawasan tersebut, dan cerita masyarakat setempat yang
dulunya sering menemukan binatang itupun menambah ketertarikan dirinya
untuk menemukan binatang tersebut.
Ia berharap timnya berhasil menemukan kijang emas untuk menjawab teka
teki masih adanya atau betul adanya binatang yang unik tersebut.
Setelah sekian lama menjelajah kawasan Kabupaten HST dan Kabupaten Hulu
Sungai Selatan (HSS) mensinyalir populasi dan habitat Kijang Emas masih
ada di Pegunungan Maratus.
Keberadaan Kijang Emas di Kawasan Pegunungan Maratus diperkuat dengan
diketemukannya tengkorak Kijang Emas di area perkebunan milik warga.
Menurut Pajarah Sub Korwil 08 HST, Mayor Sus Komaruddin melalui emailnya
disampaikan ke LKBN Antara Banjarmasin, Sabtu (2/6) tengkorak kijang
emas tersebut ditemukan saat tim penjelajah dan peneliti 2 yang dipimpin
oleh Kapten Psk Efendi Hermawan sedang melaksanakan penelitian pada
Senin (28/5) pukul 09.00 WITA di Desa Haratai Kecamatan Loksado
Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Kijang Emas yang oleh warga setempat disebut Kijang Hilalang merupakan
salah satu jenis kijang endemik Kalimantan yang sangat langka dan sulit
ditemukan, karena sering diburu warga untuk dikonsumsi.
Kijang Mas diburu warga di area Gunung Haung Haung, sekitar lima jam perjalanan dari Desa Haratai dengan berjalan kaki.
Warga setempat menganggap Kijang Mas sebagai kijang biasa, sehingga
kepala Kijang Emas dibuang tidak disimpan seperti halnya kijang lainnya
yang memiliki nilai seni tersendiri.
“Saya dapat Kijang ini sekitar tiga bulan yang lalu di Gunung Haung
Haung, disana kami sering memasang Jipah (jerat tali), tapi kepalanya
saya buang di Huma, karena tidak menarik untuk dipajang di rumah,” kata
Uncau (46), salah satu warga di Desa Haratai seperti dikutip Komaruddin.
Dari tengkorak yang ditemukan, salah satu anggota Tim Peneliti Ekspedisi
Khatulistiwa 2012 Dr Ir Abdul Haris Mustari, M.Sc, yang terlibat
langsung dalam kegiatan penelitian dan menemukan tengkorak tersebut
mengatakan penemuan tengkorak kijang di Desa Haratai, dapat dikatakan
sebagai Kijang Emas yang oleh warga sini disebut Kijang Hilalang.
Selanjutnya ia katakan, dari hasil perbandingan dengan tengkorak kijang
biasa, terdapat perbedaan yang menyolok, Kijang Mas tidak terdapat sendi
pada pangkal rangganya, masing-masing rangga memiliki satu cabang,
ramping dan sedikit melengkung serta pedisel (tulang dibawah rangga)
ramping dan melengkung.
Sedangkan kijang biasa mempunyai dua cabang pendek, lebih besar dan
terdapat sendi pada pangkal rangga serta pedisel tebal dan lurus.
“Kijang Emas memiliki warna merah kekuningan dan terdapat garis gelap di
sepanjang garis punggungnya, sementara kijang biasa berwarna kemerahan
tua,” jelas Haris.
“Kijang Emas memang tergolong langka dan belum terdaftar, karena
kekurangan dan sangat terbatasnya data-data tentang kijang tersebut,
namun saat ini keberadaan Kijang Emas semakin langka dan hampir punah,
daerah penyebarannya berada di hutan pegunungan yang sulit diakses
manusia,” tambah Haris.
Sementara Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana mengatakan
dengan diketemukannya tengkorak Kijang Emas oleh tim peneliti Ekspedisi
Khatulistiwa 2012 yang bergerak di daerah Loksado HSS, mudah-mudahan
akan menjadi masukan bagi semua pihak, terutama warga Kalimantan Selatan
untuk meneliti lebih lanjut.
Posted on April 13, 2010 by hasanzainuddin |
Sunting







Banjarmasin, 14/4 (ANTARA)- Dengan membawa kampak, parang, serta
peralatan lainnya dua pemuda Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan,
kabupaten Balangan, provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bergegas masuk
hutan dalam upaya pencarian sesuatu yang termasuk barang atau minuman
langka.
Aliansyah dan Nahli dua pmuda tersebut seakan sudah hapal lokasi yang
mereka tuju di belantara hutan Pegunungan Meratus kawasan tersebut, tak
lain yang mereka lakukan adalah berburu (mencari) sejenis madu yang
bukan dari lebah tetapi justru dari binatang Kelulut.
Kedua pemuda tersebut sudah terbiasa mencari madu ini lantaran
kebiasaan untuk mengkonsumsi madu itu karena terbukti berkhasiat bagi
kesehatan.
Apalagi di wilayah ini termasuk kawasan yang berhawa dingin, terutama
di pagi hari, dengan meminum madu kalulut maka badan jadi angat dan
sehat. Akibat kebiasaan mengkonsumsi madu tertebut walau harus
mencarinya ke dalam hutan sekalipun.
Berdasarkan keterangan binatang yang mengolah madu tersebut bentuk
kecil lebih kecil dari lalat disebut masyarakat setempat sebagai
binatang kalulut, sehingga madu yang dihasilkannya itu disebut madu
kelulut.
Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk
kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue,
atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.
Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa
Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat
dibandingkan madu lebah.
Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga
binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan
anak-anaknya. Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka
terhadap jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan
madu lebah, tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan
madu lebah.
Untuk mencari madu kalulut ini memang relatif lebih sulit
dibandingkan madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit
sekali menghasilkan madu. “Makanya untuk mendapatkan satu liter madu
kalulut, itu harus mampu mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut,
sementara kalau mengambil madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai
puluhan liter” kata Aliansyah.
Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon
seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam
rongga batang pohon besar. Biasanya sarang kalulut itu berada dalam
rongga batang pohon besar, Untuk mengenali batang pohon itu ada atau
tidak sarang kalulut, ditandai dengan sekelompok binatang kalulut yang
beterbangan di sekitar itu. Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut
pencari madu ini harus menebang dulu pohon itu, kemudian baru
membelahnya pakai kampak, setelah itu baru kelihatannya sarang kalulut
lengkap dengan wadah-wadah madunya.
Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon
itu terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin
hitam. Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari
gelembong tersebut.
Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan
balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu
dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul. Enaknya mengambil madu
itu karena gigitan binatang ini tidak sakit dibandingkan gigitan lebah,
paling banter sakitnya seperti gigitan nyamuk, tetapi kalau binatang ini
marah biasanya secara berkelompok menyerang bagian rambut orang hingga
seringakali binatang ini banyak nyangkut dirambut orang.
Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada
yang bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang
disebut penduduk setempat tanah balambika. Bila madu kalulut yang
bersarang dalam tanah merah ini diambil maka warna madu kalulut agak
merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam pohon agak merah ke
hitam-hitaman.
Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun
harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah
asli rp50 ribu per botol di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini
bisa Rp60 ribu per botol. Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau
didiamkan lebih lama dulu, sehingga dikenal ada madu kalulut usianya
tahunan di tangan masyarakat.
Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk
kejantanan laki-laki atau awet muda, atau untuk obat maag, demam, atau
obat luka, serta obat lainnya.
Berdasarkan perkiraan, madu ini lebih berkhasiat ketimbang madu
lebah, lantaran hasil pengektrakkan dari binatang yang kecil kelulut
yang mampu mengambil sari pati bunga-bungaan yang kecil pula, dengan
demikian madu yang dihasilkan lebih berkualitas.
Macan Dahan
MACAN DAHAN KALIMANTAN SATWA DENGAN SEJUTA CERITA Oleh Hasan Zainuddin
Hampir semua warga di bilangan Pedalaman Kalimantan Selatan, khususnya
warga di kaki, dilereng, atau pun di Pegunungan Meratus pernah mendengar
keberadaan macan dahan.
Berbagai cerita berbau magis pun kerap kali muncul ditengah masyarakat
berkenaan dengan keberadaan binatang yang termasuk jenis kucing besar
tersebut.
Macan dahan disebut sebagai satwa jelmaan setan, macan dahan disebut
sebagai satwa yang bisa mengilang, dan berubah-rubah bentuk, bisa
berubah menjadi seorang nenek tua, seorang kakek, bisa berubah menjadi
kucing biasa, bahkan macan dahan dipercaya bisa berubah menjadi bahan
makanan.
Oleh Karena itu jangan heran bila ada sesisir pisang di tengah hutan tak
seorang pun berani menjamahnya, ada anggapan bila makanan yang tak
jelas di tengah hutan bisa jelmaan seekor macan dahan.
Maka siapa yang berani memakannya diyakini bisa membinakanan yang memakan makanan tersebut.
Warga di pedalaman Kalimantan Selatan seperti di kawasan Kabupaten
Balangan yang termasuk kaki Pegunungan Meratus, percaya sekali
keberadaan macan dahan dengan sejuta cerita tentang keanehan binatang
tersebut.
Oleh karena itu, bila ada satu bunyi yang tak pernah didengar sebelumhya
ke luar dari hutan atau di perkebunan karet setempat dipercaya pula itu
suara macan dahan.
Walau begitu yakin keberadaan macan dahan tetapi hampir dipastikan
sebagian besar penduduk setempat tak pernah melihat sosok binatang
tersebut.
Sehingga seringkali pula warga yang melihat seekor kucing hutan (kucing
liar di hutan) disebut sebagai macan dahan, apalagi jenis kucing liar
tersebut punya kulit juga berbelang dan suka di atas pohon pula sebagai
layaknya macan dahan.
Sulitnya ditemukan sosok satwa ini lantaran populasinya yang terus berkurang bahkan mendekati kepunahan.
Hanya saja saat tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 melakukan penelitian dan
penjelasan di kawasan Pegunungan Meratus dilapori warga adanya penemuan
binatang tersebut.
Minggu (10/06) pukul 15.00 WITA, Aliudin (19) warga Kampung Juhu
melaporkan keberadaan Macan Dahan kepada Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012
di Poskotis Sub Korwil 08/HST Desa Murung B Kecamatan Hantakan
Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Keberadaan Macan Dahan dilaporkan Aliudin dengan menunjukan beberapa foto yang diambil menggunakan telepon seluler.
“Foto ini saya ambil Hari Minggu (10/6), pakai handpone kakak saya, saya
sengaja datang kesini untuk menyampaikannya kepada bapak-bapak” kata
Aliudin kepada para tentara dan para peneliti tim ekspedisi khatulistiwa
tersebut.
Menurut Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc, dosen pada Departemen
Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, yang
tergabung dalam tim peneliti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Korwil
08/HST mengatakan, foto yang ditunjukan warga Juhu itu merupakan Macan
Dahan (Neofelis nebulosa).
Macan dahan tersebut penyebaranya meliputi Pegunungan Himalaya, Cina
bagian selatan dan Taiwan ke Selatan menuju semenanjung Malaysia,
sedangkan di Indonesia sendiri ada di Sumatera dan Kalimantan, yang ada
di foto itu merupakan Macan Dahan sub spesies endemik Kalimantan yang
sangat langka dan dilindungi pemerintah.
Macan dahan tersebutmenurut peneliti muda tersebut dengan nama latinnya adalah Neofelis nebulosa diardi.
Selanjutnya dijelaskan Haris,macan dahan adalah jenis kucing terbesar di
Kalimantan, sehingga menjadi predator puncak (top predator) di pulau
ketiga terbesar di dunia ini.
Karena itu peran ekologisnya sangat penting karena berperan menjaga
keseimbangan populasi satwa mangsa seperti Babi Hutan Berjanggut (Sus
barbatus), Kijang Muncak (Muntiacus muntjak), Sambar/Payau (Rusa
unicolor).
Jenis mangsa lainnya yaitu berbagai jenis primata seperti Lutung
(Presbytis cristata), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Kelasi
Merah (Presbytis rubicunda).
Macan dahan juga memangsa berbagai jenis satwa pengerat (Rodentia), seperti Landak, Tupai, dan Tikus hutan.
Macan dahan memiliki ukuran tubuh panjang dari ujung hidung sampai ujung ekor 1,5 meter atau lebih.
Warna macan dahan cukup bervariasi dari coklat pasir sangat pucat sampai
sangat gelap dan memiliki pola bercak-bercak seperti awan pada sisi
tubuh, sehingga disebut Clouded Leopard.
Macan dahan memiliki kharakteristik khas dibandingkan dengan jenis
kucing lainnya (Famili Felidae), yaitu gigi-gigi taring atas relatif
sangat besar dibandingkan dengan ukuran tengkoraknya.
Terdapat tiga ras macan dahan yaitu pola umum (foto di Juhu), dimana
pola tubuh coklat pasir bercak-bercak seperti awan, kedua warna agak
pucak, dan ketiga warna sangat gelap, meskipun dengan pola bercak/loreng
yang sama dengan ras pertama dan kedua, jelas Haris.
Haris menambahkan, macan dahan aktif terutama malam hari (nocturna l)
dan hidup di tajuk-tajuk pohon (arboreal), meskipun juga kadang dijumpai
aktif siang hari dan mencari mangsa di lantai hutan.
Habitat utama macan tutul adalah hutan primer, yaitu hutan yang relatif
belum terjamah manusia dan memiliki pohon-pohon yang tinggi sebagai
tempat berlindungnya (cover).
Macan Dahan hidup soliter dan kadang dijumpai berpasangan, karena itu
keberadaan macan dahan sangat tergantung akan adanya hutan primer yang
masih sehat, seperti yang ada di Pegunungan Meratus.
Populasi satwa ini sangat langka karena kerusakan habitat, konversi
hutan menjadi peruntukan lain (pemukiman, pertanian, pertambangan),
serta perburuan liar untuk diambil taring, kulit dan menjadi
koleksi/spesiemen.
Macan dahan dilindungi oleh Pemerintah RI berdasarkan PP 7 Tahun 1999,
mengenai jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi oleh pemerintah.
Karena itu satwa ini harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Macan dahan termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International
Trade on Endangered Species of Wild Flora and Fauna), dan termasuk
dalam Red List IUCN (International Union for Conservation of Nature).
Dengan status itu Macan Dahan tidak boleh diburu, diperdagangkan, baik
hidup maupun mati, baik utuh maupun bagian-bagiannya, ujar Haris.
Menyikapi laporan warga tersebut, Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf
Ardian Triwasana membentuk tim khusus untuk mencari informasi tentang
keberadaan Macan Dahan di Kampung Juhu.
Tim khusus yang dibentuk sebanyak 7 personel yaitu Mayor Sus Komaruddin,
Kapten Ctp Sumbali, Kapten Chb Suryani, Sertu Agus Alwi, Serda
Kusmayadi, Serda Anggi dan Prada Kasim W.
Bertepatan dengan persiapan tim khusus untuk menuju Kampung Juhu, pada
Selasa (12/06/2012) pukul 15.00 WITA, Bapak Darmawi (35) warga Kampung
Juhu yang telah menangkap Macan Dahan berkunjung ke Poskotis Sub Korwil
08/HST dengan didampingi Aliudin.
Di Poskotis, Darmawi menuturkan kepada tim tentang proses penangkapan macan dahan di Gunung Tabing Palawan.
“Saya dapat binatang itu di Gunung Tabing Palawan, gunung itu antara
Batu Perahu dan Kampung Juhu, itu wilayah kami berburu, sekitar 3 (tiga)
jam dari Juhu”, kata Darmawi.
Selanjutnya ia katakan “Saya ketemu binatang itu hari Minggu
(27/05/2012) pagi sekitar jam 05.00 WITA, sewaktu saya mau pulang ke
Juhu, setelah dua hari berburu di hutan Tabing Palawan, binatang buas
itu saya tombak, saya ikuti sekitar 1 pal (1 Km), saya tombak lagi di
dalam lubang pohon sampai meninggal, beratnya sekitar 30 Kg, panjang
ekornya 1 meter lebih”.
“Dari kecil, baru sekarang saya bisa ketemu, dari dulu saya hanya dengar
suaranya saja, sekarang juga masih ada suaranya, kadang-kadang ada
tiga, tapi pindah-pindah, saya tidak tahu kalau binatang itu tidak boleh
ditangkap,” tambah Darmawi.
“Sekarang kulit, kepala dan ekor binatang itu saya simpan di rumah untuk kenang-kenangan anak cucu saya nanti”, jelas Darmawi.
Sedangkan Wadan Sub Korwil 08/HST berharap agar penduduk tidak menangkap kembali macan dahan yang sudah dilindungi pemerintah.
“Sekarang satwa ini sudah di lindungi pemerintah, kami dari Tim
Ekspedisi Khatulistiwa 2012 mengajak semua warga di Kawasan Pegunungan
Maratus untuk sama-sama menjaga dan melindungi macan ini, sehingga
kelestariannya tetap terjaga dan anak cucu kita nanti masih dapat
mengetahui hewan-hewan yang ada disekitar kita”, kata Wadan Sub Korwil
08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana.
Foto Binatang kecil di kampung ku
—————————————————-




